Lalu lintas kapal di Selat Hormuz kembali menanjak, menandakan fase pemulihan usai blokade beberapa bulan lalu yang berkat kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran. Teheran kembali membuka koridor perdagangan vital dunia dengan pola pengelolaan baru yang menggantikan kebijakan otonom penuh pasca perang. Namun, Iran mempertahankan kendali penuh atas regulasi dan tarif baru yang kini menjadi instrumen penting dalam negosiasi perdamaian.
Selama bertahun-tahun, Selat Hormuz menjadi tulang punggung perdagangan energi global. Jalur selat sempit yang membentang antara Iran dan Oman ini menampung sekitar 20 persen produksi minyak dunia, atau sekitar 19-20 juta barel per hari ketika kondisi normal. Setiap hambatan di jalur ini langsung memicu gejolak harga minyak dan ketidakpastian rantai pasok energi global.
Sejak akhir Februari 2026, blokade digelar sebagai respons atas serangan AS-Israel terhadap Iran, memaksa ratusan kapal menahan diri dan menciptakan ketegangan hebat di pasar minyak global. Kala itu, jumlah kapal yang berhasil melintasi selat kurang dari 10 per hari. Situasi ini memaksa banyak perusahaan pelayaran mencari rute alternatif yang lebih mahal dan memakan waktu lebih lama.
Namun, sejak pertengahan Juni lalu, situasi berangsur membaik. Berdasarkan data perusahaan pelacak maritim Kpler, setidaknya 37 kapal pengangkut komoditas berhasil melintasi Selat Hormuz pada 22 Juni 2026 waktu setempat. Layanan data AS AXSMarine mencatat angka lebih tinggi, yakni 42 pelayaran kapal niaga termasuk kapal peti kemas, pada hari yang sama. Angka ini dinobatkan sebagai volume tertinggi sejak pecahnya perang Timur Tengah pada akhir Februari 2026, meskipun masih sekitar 70 persen lebih rendah dibanding level sebelum konflik.
“Kenaikan ini menjadi salah satu tanda paling jelas adanya normalisasi tentatif dalam lalu lintas sejauh ini,” ujar Mihail Todorov dari AXSMarine, dikutip Kompas.id.
Di tengah kelancaran terbatas ini, Presiden Iran Masoud Pezeshkian bertolak ke Pakistan untuk melakukan pembicaraan mendalam mengenai penyelesaian permanen konflik dengan Amerika Serikat. Langkah diplomasi ini dijalankan beriringan dengan pembukaan parsial Selat Hormuz yang kini mengizinkan rata-rata 21 kapal per hari melintas setelah kesepakatan 14 Juni 2026. Dalam lima hari terakhir sebelum penulisan, rata-rata mencapai 27 kapal per hari—angka yang mengkonfirmasi tren pemulihan yang berkelanjutan.
Beberapa hari sebelum arus laut mulai lancar, kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran resmi ditandatangani. Washington kemudian melonggarkan sebagian sanksi ekonomi Tehran, memungkinkan Iran memproduksi, menjual, dan mengirimkan minyak mentah serta produk terkait hingga 21 Agustus 2026. Langkah AS ini menjadi katalis utama bagi Teheran untuk kembali mengaktifkan operasional perairan dan meluncurkan program tarif transit baru.
Presiden AS Donald Trump juga turut merayakan perbaikan kondisi ini. Di media sosial Truth Social, Trump menyebut aliran minyak keluar dari Selat Hormuz mencapai 19 juta barel per hari. Kenaikan pasokan ini diharapkan bisa menekan harga energi global yang selama ini melonjak akibat ketegangan militer dan blokade lingkungan Teluk.
Meskipun perkembangan positif terus terlihat, Teheran tidak mau melepaskan kendali sepenuhnya. Pejabat perunding Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan pernah kembali ke pola operasional sebelum perang. Menurutnya, jalur strategis tersebut akan sepenuhnya diadministrasikan oleh Republik Islam Iran berdasarkan hukum internasional yang berlaku.
Sumber militer Iran mengungkapkan bahwa izin transit kapal kini diberikan setiap hari di bawah koordinasi Angkatan Laut Garda Revolusi Iran. Jumlah kapal yang boleh lewat berubah-ubah setiap hari sesuai evaluasi keamanan. Sebelum kesepakatan Juni 2026, Iran menutup total Selat Hormuz sejak 1 Maret 2026 sebagai balasan atas serangan AS dan Israel terhadap wilayah Iran. Langkah penutupan itu memicu krisis energi yang membuat harga minyak Brent melonjak lebih dari 30 persen dalam hitungan minggu.
Selain berunding dengan AS, Iran juga sedang membicarakan tata kelola masa depan dengan Oman. Pembahasan membahas kemungkinan pungutan atau tarif layanan navigasi, keamanan, keselamatan, lingkungan, dan asuransi untuk kapal yang melintasi selat. Pada pertemuan di Muscat pada 23 Juni 2026, kedua negara sepakat melanjutkan pembahasan administrasi baru dan akan membentuk kelompok kerja bersama yang melibatkan kementerian luar negeri masing-masing. Oman dan Iran juga berkomitment untuk berkonsultasi dengan negara-negara pantai lain sebelum kebijakan baru diterapkan secara permanen.
Pulihnya arus perairan strategis ini dinilai memiliki dampak langsung terhadap stabilitas ekonomi global. Banyak negara di Asia yang bergantung pada aliran minyak melalui Selat Hormuz, termasuk Jepang, Korea Selatan, China, dan India. Ketika jalur ini aman, biaya transportasi energi menurun dan inflasi global bisa terkendali. Sebaliknya, setiap ancaman penutupan kembali berpotensi memicu krisis energi bertaraf internasional yang memaksa banyak negara membangun cadangan strategis.
Bagi Indonesia dan negara-negara ASEAN, pemulihan Selat Hormuz adalah kabar baik karena dapat menstabilkan harga energi dan memastikan pasokan minyak tetap lancar. Namun, ketegangan politik antarnegara di kawasan Teluk Persia tetap menjadi variabel yang sulit diprediksi dalam jangka menengah. Pengamat geopolitk menekankan bahwa Indonesia perlu terus memantau perkembangan di Timur Tengah dan memperkuat kerja sama regional sebagai upaya menjaga ketahanan energi nasional. Kelancaran kembali Selat Hormuz, sekalipun masih terbatas, memberikan harapan baru bagi perdagangan dan stabilitas pasar energi dunia.



















