Konflik antara Iran dan Israel berpotensi menyebabkan lonjakan harga minyak dunia. Serangan Israel ke Iran memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan.
Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menyampaikan analisisnya terkait dampak konflik ini terhadap ekonomi global.
Saat ini harga minyak berada di kisaran 70 dolar AS per barel. Konflik yang berlanjut bisa mendorong harga naik menjadi 80 dolar AS per barel.
Gangguan pasokan di Selat Hormuz akan berdampak signifikan. Selat Hormuz adalah jalur penting bagi 20 persen perdagangan minyak dunia.
Jika pasokan terganggu, harga minyak bisa menembus 100 dolar AS per barel. Level ini akan menjadi rekor tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
“Kalau sudah sampai 100 dolar per barel, itu masuk zona tinggi, rekor,” kata Faisal.
Konflik Iran-Israel berpotensi meluas menjadi konflik regional. Keterlibatan negara lain seperti Amerika Serikat dan China bisa memperpanjang eskalasi.
Lonjakan harga minyak dunia akan berdampak langsung pada harga BBM. Kenaikan harga BBM nonsubsidi tak terhindarkan mengikuti harga pasar internasional.
Penyesuaian harga BBM bersubsidi juga menjadi kekhawatiran. Pertalite dan Solar yang digunakan masyarakat menengah ke bawah berpotensi naik.
“Peningkatan harga ini tentu saja berpotensi mempengaruhi inflasi,” ujarnya.
Inflasi yang meningkat dapat menurunkan daya beli masyarakat. Dampak ekonomi dari konflik ini bisa dirasakan secara luas.
Situasi geopolitik yang memanas ini perlu diwaspadai. Dampaknya terhadap ekonomi global dan domestik bisa signifikan.
Dikutip dari Kantor Berita ANTARA, Faisal menekankan perlunya antisipasi terhadap dampak konflik ini.





















