Meta, perusahaan induk Facebook, Instagram, dan WhatsApp, baru-baru ini mengumumkan kerugian besar yang dialami oleh divisi virtual reality (VR) mereka, Reality Labs. Kerugian ini mencapai 19,1 miliar dolar AS pada tahun 2025, meningkat dibandingkan kerugian tahun sebelumnya yang sekitar 17,7 miliar dolar AS. Pada kuartal keempat saja, Reality Labs mencatatkan kerugian sebesar 6,2 miliar dolar AS.
Meskipun mengalami kerugian besar, penjualan Reality Labs tercatat sebesar 955 juta dolar AS pada kuartal keempat dan sekitar 2,2 miliar dolar AS sepanjang tahun 2025. CEO Meta, Mark Zuckerberg, tetap optimis dengan masa depan VR, terutama dengan fokus pada pengembangan kacamata dan perangkat wearable.
Zuckerberg menyatakan bahwa Meta akan berfokus untuk menjadikan Horizon sebagai platform yang sukses di perangkat mobile dan menciptakan ekosistem VR yang menguntungkan dalam beberapa tahun mendatang. Namun, ia juga mengakui bahwa kerugian Reality Labs diperkirakan akan serupa dengan tahun sebelumnya, sebelum secara bertahap berkurang.
Sejak mengumumkan pivot ke “metaverse” pada tahun 2021, Meta menghadapi skeptisisme yang cukup besar. Kritikan tajam pun muncul, bahkan dicap sebagai “bahan tertawaan internasional”. Skeptisisme ini belum sepenuhnya mereda, terutama dengan kerugian yang terus berlanjut dan pergeseran fokus Meta ke arah kecerdasan buatan (AI).
Baru-baru ini, Meta juga mengumumkan rencana untuk menutup sejumlah studio VR dan menghentikan aplikasi Workrooms, yang sebelumnya dipromosikan sebagai ruang VR untuk pertemuan kantor. Langkah ini semakin mengindikasikan penurunan minat Meta pada virtual reality. Seperti yang dilansir dari CNBC, Meta juga melakukan PHK terhadap 10% karyawan Reality Labs.
Situasi ini memunculkan pertanyaan tentang bagaimana Meta akan membalikkan keadaan bisnis VR mereka yang sedang sakit. Dengan kerugian yang terus berlanjut dan fokus yang beralih ke AI, masa depan Reality Labs menjadi tidak pasti.























