Ekuador menaikkan tarif impor dari Kolombia menjadi 50% mulai 1 Maret. Kenaikan ini menyusul tarif awal 30% yang diberlakukan awal Februari.
Keputusan ini meningkatkan ketegangan perdagangan dan keamanan antara kedua negara.
Presiden Ekuador, Daniel Noboa, mendesak Presiden Kolombia, Gustavo Petro, untuk memperketat keamanan perbatasan.
Ekuador mengalami peningkatan kekerasan sejak pandemi COVID-19 akibat kejahatan terorganisir.
Noboa menuduh Petro kurang tegas dalam memerangi perdagangan narkoba. Kolombia dikenal sebagai sumber kokain terbesar di dunia.
Noboa menggunakan tarif untuk memaksa Kolombia mengikuti strategi keamanan nasional Ekuador.
Pemerintah Ekuador menuduh Kolombia tidak bekerja sama dalam keamanan perbatasan.
Kenaikan tarif ini juga didasari defisit perdagangan yang meningkat. Hampir 4% ekspor Kolombia menuju Ekuador, senilai $2,13 miliar.
Ekspor Ekuador ke Kolombia lebih sedikit, sekitar 2,3% atau $863 juta.
Defisit perdagangan Ekuador dengan Kolombia mencapai $1,03 miliar hingga 2025, tidak termasuk minyak.
Namun, belum jelas apakah tarif baru berlaku untuk listrik Kolombia. Kolombia sempat menangguhkan penjualan listrik ke Ekuador sebagai balasan atas tarif sebelumnya.
Penangguhan ini dapat memicu ketegangan di Ekuador. Kekeringan mengganggu produksi listrik tenaga air, sumber utama energi negara itu.
Biaya pengiriman minyak mentah Kolombia melalui jalur pipa Trans-Ekuador juga naik 900%. Dikutip dari Al Jazeera.





















