Presiden Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva, menyatakan Brasil tidak menginginkan “Perang Dingin baru”. Hal ini disampaikan menjelang kunjungannya ke Amerika Serikat.
Lula ingin menyampaikan kepada Presiden AS, Donald Trump, bahwa Brasil ingin semua negara diperlakukan setara.
“Kami tidak ingin campur tangan di negara lain,” kata Lula dalam konferensi pers di India. Ia baru saja menyelesaikan kunjungan tiga hari ke India.
Lula menolak mengomentari keputusan Mahkamah Agung AS terkait tarif impor. Trump berencana menggantinya dengan kebijakan lain.
Meski begitu, Lula yakin hubungan Brasil-AS akan kembali normal setelah pertemuannya. Brasil hanya ingin hidup damai, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kehidupan rakyat.
“Dunia tidak butuh lebih banyak turbulensi; dunia butuh perdamaian,” tegasnya.
Lula berharap bertemu Trump pada minggu pertama bulan Maret. Agenda pertemuan termasuk perdagangan, imigrasi, dan investasi.
Lula dan Trump memiliki perbedaan pendapat tentang tarif, perang Israel di Gaza, dan isu lainnya. Namun, hubungan AS dan Brasil tampaknya membaik.
November lalu, AS membebaskan ekspor Brasil dari tarif 40%. Sebelumnya, tarif ini dikenakan pada produk-produk Brasil.
Sebelumnya, Lula bertemu dengan Perdana Menteri India, Narendra Modi di New Delhi. Pertemuan ini membahas kerjasama mineral kritis.
Kedua pemimpin sepakat meningkatkan kerjasama mineral dan logam tanah jarang. Tujuannya untuk diversifikasi perdagangan.
Mereka menandatangani nota kesepahaman tentang logam tanah jarang. Fokusnya pada investasi, eksplorasi, dan pertambangan.
Lula dan Modi juga membahas kerangka hukum, kewirausahaan, kesehatan, penelitian ilmiah, dan pendidikan.





















