AI atau kecerdasan buatan memunculkan beragam reaksi. Ada yang suka, ada yang benci, tapi tak ada yang acuh. Biasanya, pendukung terbesar AI adalah perusahaan yang membuatnya.
Anehnya, Microsoft justru meremehkan Copilot. Padahal, mereka gencar mempromosikannya. Kebijakan layanan Copilot menyebutkan bahwa Copilot hanya untuk hiburan dan bisa membuat kesalahan.
“Copilot hanya untuk tujuan hiburan… Bisa saja salah, dan mungkin tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Jangan andalkan Copilot untuk saran penting. Gunakan Copilot dengan risiko sendiri,” bunyi pernyataan tersebut.
Sebenarnya, peringatan serupa umum ditemukan pada alat AI lain seperti ChatGPT dan Gemini. Pengguna diingatkan untuk berhati-hati dalam menggunakan AI.
Teknologi ini belum sempurna dan bisa mengarang sesuatu. Peringatan ini mengingatkan bahwa hasil yang didapat mungkin tidak akurat. Pengguna disarankan untuk memeriksa ulang hasil dari bot jika digunakan untuk hal penting.
Yang menarik adalah pernyataan bahwa Copilot hanya untuk hiburan. Padahal, Microsoft telah menyematkan fitur Copilot ke banyak aplikasi dan layanan, bahkan Windows.
Copilot juga diiklankan sebagai alat untuk bekerja. Copilot menjadi bagian dari Microsoft 365. Menyebut elemen inti aplikasi seperti PowerPoint, Outlook, dan Teams hanya sebagai hiburan tentu meruntuhkan promosi Microsoft.
Hal ini terjadi bersamaan dengan penghapusan fitur Copilot yang dianggap tidak perlu. Microsoft mengakui deskripsi ini tidak tepat. Mereka akan memperbarui bahasa yang digunakan.
Menurut perwakilan Microsoft, frasa ‘tujuan hiburan’ adalah bahasa lama sejak Copilot diluncurkan sebagai pendamping pencarian di Bing.
Seiring perkembangan produk, bahasa tersebut tidak lagi mencerminkan bagaimana Copilot digunakan saat ini dan akan diubah pada pembaruan berikutnya.
Fitur AI generatif memang lebih berorientasi hiburan daripada produktivitas setelah peluncuran ChatGPT pada akhir 2022. Namun, persaingan AI telah berlangsung selama sekitar tiga tahun.
Copilot bukan lagi sekadar pendamping Bing; ia adalah salah satu alat AI utama. Kelalaian Microsoft dalam memperbarui ‘bahasa lama’ ini cukup mencerminkan kondisi perusahaan secara keseluruhan.
Microsoft ingin pengguna menganggap serius teknologi AI mereka, tetapi mengabaikan detail kecil yang penting bagi pengguna. Hasilnya adalah Windows yang dipenuhi fitur AI yang tidak diinginkan, yang tampaknya hanya untuk tujuan hiburan.





















