Partai Nasional Warga (NCP) Bangladesh, yang lahir dari gerakan mahasiswa 2024, kini berupaya menancapkan kaki di dunia politik yang keras.
Ruhul Amin, seorang pemilih, merasa menemukan harapan baru ketika NCP dibentuk oleh para pemimpin unjuk rasa yang berhasil menggulingkan Sheikh Hasina.
NCP diluncurkan pada Februari 2025, mengklaim dukungan luas dan prospek elektoral yang kuat.
Namun, kenyataan berkata lain. NCP kesulitan membangun organisasi akar rumput yang kuat untuk bersaing dalam pemilihan parlemen.
Akhirnya, NCP berkoalisi dengan Bangladesh Jamaat-e-Islami, memenangkan enam dari 30 kursi yang diperebutkan.
Koalisi yang dipimpin oleh Partai Nasionalis Bangladesh (BNP) memenangkan 212 kursi.
Namun, Amin tetap optimis. “Kami memulai dengan baik,” ujarnya, yakin NCP akan menjadi kekuatan besar di masa depan.
Asif Mahmud, juru bicara NCP, menyebut hasil pemilu itu menggembirakan, meski mengakui adanya kompromi.
Aliansi dengan Jamaat memicu perpecahan internal, karena dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai inklusif NCP.
Beberapa pemimpin NCP mengundurkan diri, khawatir aliansi itu akan merusak kredibilitas partai.
Namun, Mahmud menegaskan bahwa itu hanya aliansi elektoral, bukan merger politik. NCP berencana mengikuti pemilihan lokal secara independen.
Anik Roy, mantan pemimpin NCP, khawatir partai itu kini terikat pada Jamaat dan meragukan kejelasan ideologinya.
Para ahli menilai NCP berada di posisi yang ambigu: hadir di parlemen, terikat pada gerakan mahasiswa, namun berjuang dalam aliansi yang terpolarisasi.





















