Konflik AS-Israel di Iran, Rusia Diprediksi Raih Untung?

InternasionalPolitik
Views: 5

Serangan AS-Israel ke Iran dan pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei membuat Moskow tak nyaman. Beberapa komentator Rusia khawatir mereka bisa diserang meski punya senjata nuklir.

Meski khawatir, Rusia juga merasa strateginya benar, termasuk agresi ke Ukraina. Kremlin melihat AS dan Barat sebagai aktor yang berbahaya dan tak rasional.

Bagi Putin, perang AS di Iran mirip peristiwa di Libya tahun 2011. Intervensi NATO menggulingkan Muammar Gaddafi.

Serangan NATO ke Libya, yang disetujui Medvedev (orang dekat Putin), jadi alasan Putin kembali jadi presiden.

Oktober 2011, Gaddafi dibunuh secara brutal. Rezimnya berakhir, tapi Libya malah perang saudara.

Putin melihat ini sebagai peringatan. Jika ia toleran pada Barat, hal serupa bisa terjadi padanya dan Rusia. Protes pro-Barat di Moskow makin membuatnya waspada.

Putin menindak protes itu sebelum dilantik pada Mei 2012. Ini mengubah kebijakan Rusia, hingga intervensi di Ukraina.

Putin merasa tindakannya di Ukraina benar dan berterima kasih pada pendahulunya yang membangun senjata nuklir.

Meski menyerang Ukraina, Putin merasa membela tatanan dunia pasca-Perang Dunia II yang menurutnya dirusak oleh Barat.

Invasi ke Ukraina berakar pada doktrin Soviet tahun 1930-an untuk menyerang musuh di wilayahnya. Ukraina dan Georgia jadi “musuh” saat NATO membuka pintu bagi mereka.

Rusia melihat serangan ke Ukraina sebagai pencegahan intervensi seperti di Irak, Libya, Suriah, dan kini Iran.

Perang di Ukraina melindungi sebagian besar warga Rusia dari dampak perang, yang dianggap tak terhindarkan.

Konflik AS-Israel di Iran justru menguntungkan Rusia dalam jangka pendek. Harga minyak dan gas naik, menambah pendapatan negara. Harga energi yang tinggi juga menyulitkan Uni Eropa mendanai Ukraina.

Tags: AS, Iran, Rusia

You May Also Like

THR ASN, TNI/Polri, Pensiunan Cair 100 Persen, Pekerja Swasta Harus Penuh

Latest News

Agama

Budaya

Sejarah

Hiburan