Washington, DC – Pernyataan Marco Rubio tentang peran Israel dalam serangan AS ke Iran menuai kontroversi. Meski ditarik kembali, komentator dari berbagai spektrum politik bereaksi keras.
Rubio mengklaim Israel berencana menyerang Iran. Ini akan memicu serangan balasan Iran ke aset AS. Washington lalu meluncurkan serangan preemptif ke Iran.
Pernyataan Rubio berbeda dengan klaim pejabat AS lainnya. Analis menilai perang AS-Israel menguntungkan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
AS memberi bantuan militer lebih dari $300 miliar ke Israel sejak 1948. Termasuk $21 miliar selama konflik di Gaza.
Presiden Trump punya alasan berbeda. Ia bilang perang diluncurkan karena Iran akan menyerang Israel dan lainnya.
Trump berdalih ancaman Iran membenarkan serangan AS-Israel. Namun, bukti ancaman langsung dari program nuklir atau balistik Iran minim.
Rubio kemudian menarik pernyataannya dan merasa disalahartikan. Sebelumnya, ia menyinggung ancaman rudal balistik dan drone Iran.
“Kami tahu akan ada aksi Israel,” katanya. “Itu akan memicu serangan ke pasukan Amerika. Jika kita tidak menyerang duluan, kita akan menderita banyak korban.”
Kritik tetap berdatangan. Kelly Grieco dari Stimson Center menilai AS terjebak oleh Israel. Ini memicu perdebatan tentang keselarasan kepentingan AS dan Israel.
Kenneth Roth dari Human Rights Watch mempertanyakan manfaat mendanai Israel hingga menyeret AS ke perang. CAIR menyebut pernyataan Rubio sebagai pengakuan mengejutkan.
CAIR menyerukan Kongres untuk membatasi wewenang Trump dalam berperang. Senator Bernie Sanders juga mengecam perang ini.
“Netanyahu ingin perang dengan Iran. Trump mengabulkannya,” kata Sanders. Perwakilan Thomas Massie mengaitkan pernyataan Rubio dengan janji “America First” Trump.
Tokoh MAGA seperti Matt Walsh dan HodgeTwins juga mengecam tindakan pemerintah. Mereka menilai AS mengorbankan diri demi perang Israel.





















