Perekonomian Indonesia Bertahan Solid Meski Rupiah Melemah, Ini Bukti dari Menko Airlangga

BisnisEkonomi
Views: 4

Jakarta — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa perekonomian Indonesia masih berada dalam kondisi yang kuat dan sehat, meskipun menghadapi dinamika global yang tidak menentu dan tekanan pelemahan nilai tukar rupiah. Pernyataan ini disampaikan Airlangga di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, pada Jumat (10/7/2026) sebagai respons terhadap berbagai kekhawatiran yang muncul di tengah ketidakpastian perekonomian dunia.

“Ya, pertama kalau kita lihat pertumbuhan ekonomi kemarin kan masih baik di 5,61. Kemudian kalau kita lihat neraca perdagangan year to date juga masih positif,” kata Airlangga saat memaparkan berbagai indikator yang menunjukkan ketahanan ekonomi nasional. Pandangan ini diajukan mengingat beberapa analis pasar pernah men ekspresikan khawatir bahwa fluktuasi nilai tukar bisa berdampak besar pada stabilitas makro.

Pertumbuhan dan Neraca Perdagangan Masih Terjaga

Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Indonesia pada triwulan I 2026 berhasil tumbuh sebesar 5,61 persen year-on-year, melampaui prediksi awal dan membuktikan konsumsi dalam negeri tetap menjadi motor penggerak utama kegiatan ekonomi. Konsumsi rumah tangga naik 5,52 persen, didorong oleh peningkatan mobilitas masyarakat selama Hari Besar Keagamaan Nasional Idulfitri serta paket stimulus yang diterbitkan pemerintah untuk mendorong konsumsi.

Meskipun neraca perdagangan sempat mencatatkan defisit pada bulan terakhir, Airlangga menjelaskan bahwa kondisi tersebut disebabkan oleh lonjakan harga impor bahan bakar minyak (BBM), bukan merupakan tanda melemahnya ekspor. Data menunjukkan harga minyak dunia mengalami kenaikan tajam pada periode itu, membuat nilai impor melonjak walaupun volume tetap stabil.

“Kemarin satu bulan memang negatif karena memang dari segi impor BBM itu memang harganya spike, harganya naik,” ujarnya. Sebaliknya, ekspor komoditas unggulan seperti kelapa sawit, batu bara, dan ferro alloy masih bertahan stabil, memberikan kontribusi positif bagi penerimaan devisa negara. Kinerja positif ini juga didukung oleh peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara yang membawa devisa segar ke dalam negeri.

Inflasi Terkendali dan Sektor Perbankan Tetap Sehat

Indikator lain yang menjadi bukti soliditas ekonomi adalah kinerja inflasi. Pemerintah menargetkan inflasi berada di kisaran 2,5 persen plus minus 1 persen, dan saat ini angka tersebut masih dapat dijaga melalui koordinasi antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan. Stabilitas harga ini penting untuk menjaga daya beli masyarakat dan menciptakan iklim investasi yang kondusif bagi pelaku usaha.

Dari sisi keuangan, Airlangga menambahkan bahwa sistem perbankan Indonesia tetap aman dan liquid. Dana pihak ketiga di perbankan sudah menunjukkan pertumbuhan double digit pada kuartal ini, sementara kredit yang tersalurkan juga mulai meningkat jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Hal ini menandakan bahwa sektor intermediary perbankan kembali berperan aktif dalam mendorong siklus ekonomi.

Peningkatan penyaluran kredit juga mencakup kredit properti dan kredit konsumsi, menandakan kepercayaan masyarakat terhadap prospek ekonomi tetap tinggi. Rasio kredit bermasalah juga menunjukkan tren menurun, sejalan dengan upaya perbankan dalam melakukan debt restructuring bagi Nasabah yang terdampak pandemi beberapa tahun lalu.

Insentif Industri untuk Daga Saing Global

Guna menjaga daya saing industri dalam negeri di tengah kondisi global yang menantang, pemerintah menyiapkan sejumlah insentif strategis. Langkah pertama adalah pembebasan bea masuk impor bahan baku plastik bagi industri kimia, yang saat ini sedang diatur melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK). Kebijakan ini diharapkan dapat menurunkan biaya produksi bagi pabrik-pabrik tekstil dan kemasan.

Kemudian, pemerintah juga akan memberikan fasilitas bea masuk nol persen untuk impor elpiji selama enam bulan ke depan. Elpiji akan digunakan sebagai bahan baku bagi industri petrokimia, yang diharapkan dapat memacu produksi plastik daur ulang dan polimer dalam negeri. Kombinasi kedua kebijakan ini diproyeksikan bisa menyerap lebih banyak tenaga kerja dan mendorong ekspor manufaktur.

Program Prioritas untuk Rakyat Berjalan Sesuai Target

Selain stimulus untuk sektor industri, penyaluran program-program prioritas pemerintah seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan kredit perumahan juga terus berjalan dengan capaian yang positif. Kredit usaha rakyat menjadi garda terdepan dalam menyokong pertumbuhan UMKM, dengan plafon yang terus ditingkatkan dan suku bunga yang tetap terjangkau. Sementara itu, kredit perumahan mendorong terjadinya multiplier effect di sektor konstruksi, material bangunan, hingga furniture.

Keberhasilan program-program ini menjadi landasan bagi tahun 2026 sebagai momentum pemulihan ekonomi yang lebih inklusif. Pemerintah juga terus mengevaluasi penyaluran Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai program jaring pengaman sosial, yang tidak hanya mendorong konsumsi tapi juga meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Optimisme Lembaga Internasional Tetap Terjaga

Tidak hanya dari dalam negeri, optimisme terhadap perekonomian Indonesia juga mendapatkan dukungan dari sejumlah lembaga internasional. World Bank, International Monetary Fund (IMF), dan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5 persen untuk tahun ini, angka yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan ekonomi global yang hanya dippingroviral sekitar 3 persen.

“Dan dari berbagai lembaga, baik itu World Bank, IMF, maupun OECD, pertumbuhan ekonomi kita masih dalam range sekitar 5 persen. Jadi relatif semua menilai perekonomian kita relatif aman dan solid,” pungkas Airlangga. Pernyataan ini menegaskan bahwa meskipun tantangan global masih ada, pemilih kebijakan pemerintah dan koordinasi dengan Bank Indonesia dinilai telah menempatkan Indonesia di posisi yang lebih tangguh dibandingkan banyak negara emerging market lainnya.

Berbagai indikator tersebut membuktikan bahwa Indonesia masih berada pada lintasan yang tepat untuk menjaga momentum pembangunan ekonomi, sekaligus membangun daya tahan terhadap goncangan eksternal di tahun-tahun mendatang.

Tags: Airlangga Hartarto, Ekonomi, IMF

You May Also Like

Argentina Hajar Inggris 2-1, Messi Bawa Tim Tango ke Final Piala Dunia 2026
10 Inovasi Teknologi Masa Depan yang Akan Ubah Dunia pada 2026

Latest News

Agama

Budaya

Sejarah

Hiburan