Artificial Intelligence (AI) kini menjadi motor penggerak utama transformasi digital di dunia usaha Indonesia. Sepanjang tahun 2024, lebih dari 5,9 juta bisnis di negara ini mulai mengadopsi teknologi AI, atau setara lebih dari sepuluh perusahaan baru setiap menit. Angka itu menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan laju pertumbuhan adopsi AI tercepat di kawasan Asia Pasifik.
Laporan terbaru yang dirilis bersama oleh Amazon Web Services (AWS) dan konsultan strategi Strand Partners berjudul “Unlocking Indonesia’s AI Potential 2025” mencatat total perusahaan yang menggunakan AI kini mencapai 18 juta atau sekitar 28 persen dari seluruh pelaku usaha di Indonesia. Angka tersebut melonjak 47 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sebuah indikasi bahwa teknologi ini semakin diakui sebagai kebutuhan strategis, bukan sekadar tren sesaat.
Namun, di balik statistik yang mengesankan itu, tersimpan sebuah ketimpangan yang mengkhawatirkan. Mayoritas pelaku usaha masih menggunakan AI hanya untuk urusan dasar, seperti otomatisasi tugas sederhana atau pengolahan data standar. Dari 28 persen perusahaan yang sudah mengadopsi AI, hanya satu dari sepuluh yang benar-benar memanfaatkannya untuk menciptakan inovasi baru, merombak proses bisnis secara menyeluruh, atau menghasilkan produk berbasis kecerdasan buatan.
Sementara itu, pertarungan yang kian sengit terjadi antara startup dan perusahaan besar. Di kalangan startup, adopsi AI berjalan jauh lebih agresif. Lebih dari setengah startup telah memakai AI dalam operasional harian, dan hampir dua pertiga di antaranya membangun produk atau layanan yang sepenuhnya digerakkan oleh teknologi ini. Lebih dari 40 persen startup bahkan menjadikan AI sebagai jantung dari model bisnis mereka.
Berbeda nasib dengan perusahaan besar. Meskipun empat dari sepuluh perusahaan besar sudah mulai menelusuri aplikasi AI, hanya sebagian kecil yang berhasil meluncurkan inovasi berbasis teknologi itu. Tingkat kedalaman penggunaan pun masih sangat bervariasi, dengan mayoritas masih terjebak pada tahapan efisiensi rutin. Situasi ini menimbulkan risiko munculnya “ekonomi dua tingkat,” di mana kelompok startup gesit bisa melaju kencang, sementara perusahaan besar justru tertinggal karena minimnya keterampilan digital dan kesiapan infrastruktur.
Tantangan terbesar yang dihadapi pelaku usaha adalah ketersediaan manusia yang kompeten. Sebanyak 57 persen bisnis mengaku sulit menemukan tenaga kerja yang terampil mengelola AI. Ironisnya, lebih dari 40 persen pekerjaan masa depan akan menuntut kemampuan AI. Padahal, saat ini kurang dari seperlima perusahaan merasa karyawannya sudah cukup siap menghadapi permintaan itu. Kedua angka ini menciptakan kesenjangan yang semakin melebar jika tidak segera ditambahi program pelatihan berbasis teknologi.
Padahal, data laporan menunjukkan bahwa perusahaan yang sudah mampu mengintegrasikan AI secara strategis mendapatkan keuntungan yang signifikan. Lebih dari separuh perusahaan yang memakai AI melaporkan kenaikan pendapatan rata-rata 16 persen. Produktivitas kerja juga melonjak signifikan di tujuh dari sepuluh perusahaan yang merespons. Lebih dari 60 persen bisnis mengharapkan penghematan biaya operasional rata-rata 29 persen, angka yang tidak main-main bagi kesehatan usaha.
Hasil penghematan inilah yang kemudian diarahkan untuk memperluas layanan pelanggan, meningkatkan program pelatihan karyawan, atau mengembangkan produk dan jasa baru. Dengan kata lain, AI tidak hanya berfungsi sebagai alat memangkas biaya, namun juga menjadi katalis untuk investasi jangka panjang yang memperkuat fondasi bisnis.
Di balik semua angka itu, AWS menegaskan komitmen panjang untuk mendukung transformasi digital Indonesia. Sejak 2021, perusahaan tersebut sudah menginvestasikan lima miliar dolar AS guna meluncurkan kawasan data Asia Pasifik berbasis Jakarta. Investasi itu diperkirakan menciptakan sekitar 24.700 lapangan kerja per tahun dan menyumbang lebih dari 10 miliar dolar AS terhadap produk domestik bruto hingga 2036.
Di bidang pengembangan talenta digital, AWS telah melatih lebih dari satu juta warga Indonesia dalam keterampilan digital sejak 2017. Inisiatif seperti AWS Skill Builder, AWS Educate, dan AWS re/Start dirancang untuk menjangkau berbagai kelompok, mulai dari pelajar, pendidik, hingga komunitas yang kurang terlayani di 26 provinsi. Salah satu program unggulan adalah “Terampil di Awan,” yang menyediakan pelatihan cloud strategis untuk siswa, pendidik, dan masyarakat di daerah terluar.
“Pelaku usaha di Indonesia sangat antusias untuk berinovasi dengan AI, dan tingginya tingkat adopsi menunjukkan potensi luar biasa bagi perekonomian Indonesia. Namun, riset ini juga mengungkapkan hambatan serius, terutama bagi perusahaan besar, dalam mendalami pemanfaatan AI,” ujar Country Manager AWS Indonesia Anthony Amni.
Kesimpulannya, Indonesia berada di tengah gelombang besar adopsi AI yang tak terbendung. Namun, agar transformasi itu benar-benar inklusif dan merata, pemerintah dan sektor swasta harus bersama-sama mengejar ketertinggalan. Mulai dari penyesuaian kurikulum pendidikan digital, perluasan akses infrastruktur, hingga penguatan regulasi yang mendukung inovasi. Hanya dengan melengkapi pondasi itu, Indonesia bisa benar-benar memimpin era digital, bukan sekadar mengikuti arus global.



















