Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto secara resmi memulai pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) Liquefied Natural Gas (LNG) Abadi Blok Masela dengan melaksanakan groundbreaking di Kepulauan Tanimbar, Maluku, pada Kamis (16/7/2026). Langkah ini menandai babak penting dalam upaya Indonesia memperkuat ketahanan energi nasional setelah proyek besar ini terkatung hampir tiga dekade dan menjadi salah satu proyek pembangunan energi terlama di era modern.
Dalam sambutannya yang disampaikan di lokasi proyek, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memaparkan skala investasi dan kapasitas produksi proyek ini secara detail dan transparan. Total dana yang digelontorkan oleh konsorsium internasional mencapai US$20,9 miliar atau setara dengan Rp390 triliun. Dari jumlah besar itu, proyek diproyeksikan dapat menghasilkan 9,5 juta metrik ton LNG per tahun, 1.200 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD) gas pipa, serta 35.000 barel kondensat setiap harinya. Angka tersebut membuat proyek ini menjadi salah satu pengeboran migas terbesar di dunia tahun ini.
Pemerintah menegaskan bahwa mayoritas hasil produksi akan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Bahlil menyatakan tegas, 60% produksi LNG Blok Masela akan disalurkan ke pasar domestik guna mendukung hilirisasi industri dan memperkuat ketahanan energi nasional. Sementara itu, sisa 40% akan diekspor ke pasar global sebagai sumber devisa baru bagi negara. Langkah ini sejalan dengan strategi pemerintah untuk menjamin suplai energi nasional sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia di kancah internasional tanpa harus bergantung terlalu banyak pada impor energi.
Pasokan gas domestik nantinya akan dimanfaatkan untuk berbagai sektor krusial yang menopang pertumbuhan ekonomi. PT Pupuk Indonesia dijadwalkan membangun fasilitas industri hilirisasi untuk memproses gas mentah menjadi pupuk yang siap pakai sehingga meminimalkan impor. Selain itu, sebagian gas juga akan diserahkan kepada PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan PT Pertamina Gas Negara (PGN) guna mendukung ketahanan energi rumah tangga serta industri kecil dan menengah. Pemerintah berharap proyek ini dapat menciptakan nilai ekonomi tambah yang merata di seluruh daerah, terutama di Maluku dan Papua.
Lapangan Abadi di Blok Masela merupakan lapangan gas laut dalam dengan cadangan terbesar di Indonesia. Berlokasi sekitar 160 kilometer lepas pantai Pulau Yamdena di Laut Arafura, proyek ini menghadapi kompleksitas teknik tinggi karena harus mengebor di kedalaman laut 400 hingga 800 meter. Kondisi geografis tersebut menjadi tantangan sekaligus bukti tekad Indonesia untuk menaklukkan sumber daya energi di wilayah timur negara. Cadangan gas lapangan ini diperkirakan mencapai 6,97 triliun kaki kubik (TCF), angka yang signifikan untuk memenuhi kebutuhan nasional selama bertahun-tahun ke depan.
Secara historis, Kontrak Bagi Hasil (Production Sharing Contract/PSC) Masela telah ditandatangani sejak 1998 lalu dan telah diperpanjang hingga 2055. Konsep pengembangan yang melibatkan pengeboran deep water, fasilitas subsea, FPSO (Floating Production Storage and Offloading), serta onshore LNG plant membutuhkan kolaborasi erat antara Pertamina Hulu Energi (PHE) dan mitra internasional, termasuk korporasi raksasa energi dari Jepang, Inpex Corporation. Ke depan, proyek ini juga akan melibatkan perusahaan-perusahaan engineering kelas dunia untuk memastikan standar keselamatan dan efisiensi produksi.
Presiden Prabowo menekankan bahwa setelah hampir tiga dekade tertunda dan berganti-ganti pemerintahan, proyek ini kini bisa terealisasi berkat kerja keras pemerintah sebelumnya, dukungan DPR, dan komitmen para mitra strategis. Pembangunan ini dijadwalkan berlangsung selama beberapa tahun dan mampu menyerap hingga 10.000 tenaga kerja langsung saat fase konstruksi berlangsung. Selain itu, proyek ini juga diharapkan membuka peluang bagi pengembangan industri pendukung di kawasan Maluku dan sekitarnya, termasuk jasa logistik, konsultan teknik, dan penyediaan barang dan jasa lokal.
Selain kontribusi ekonomi dan ketahanan energi, proyek LNG Abadi Masela juga dirancang dengan menerapkan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (Carbon Capture and Storage/CCS). Langkah ini menjadi penting bagi Indonesia untuk bertransisi menuju energi rendah karbon dan mendukung target sustainability era modern. Proyek ini dijadikan model bagaimana aktivitas hulu migas berkelanjutan dapat berjalan selaras dengan kebijakan mitigasi perubahan iklim, menciptakan hubungan harmoni antara pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan.
Dengan skala produksi dan nilai investasi yang besar, proyek LNG Abadi Masela diproyeksikan menjadi salah satu pilar utama ketahanan energi Indonesia di masa depan. Pemerintah optimistis bahwa keberhasilan proyek ini dapat membuka jalan bagi proyek-proyek strategis lain di sektor hulu migas, sekaligus memperkuat posisi Indonesia di peta energi global. Masyarakat pun berharap sisa pembangunan berjalan lancar sesuai jadwal dan manfaatnya benar-benar dapat dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia tanpa hambatan berarti. Proyek ini seharusnya tidak hanya dipandang sebagai pencapaian energi, tetapi juga sebagai simbol kemajuan infrastruktur nasional yang bisa dipegang oleh bangsa Indonesia di abad ini.


















