Setelah 13 tahun tidak beroperasi, Planetarium Jakarta kembali dibuka untuk umum. Planetarium yang berlokasi di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM) ini, diharapkan dapat kembali menjadi pusat pembelajaran sains dan astronomi bagi masyarakat lintas generasi.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, meresmikan pembukaan kembali Planetarium pada Selasa, 23 Desember 2025, dan masyarakat umum dapat mengakses fasilitas tersebut mulai Kamis, 25 Desember 2025. Pramono Anung menekankan bahwa pembukaan kembali Planetarium bukan hanya sekadar membuka bangunan lama, tetapi juga mengaktifkan kembali peran edukasi yang sempat terhenti. Ia menambahkan, Planetarium memiliki posisi strategis sebagai ruang pembelajaran untuk memperkaya pemahaman masyarakat terhadap sains dan astronomi, terutama bagi generasi muda.
Sebagai bagian dari peresmian, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberikan pembebasan biaya masuk bagi pelajar selama tiga bulan ke depan, bertepatan dengan libur Natal dan Tahun Baru. Kebijakan ini diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh pelajar dan keluarga. Planetarium Jakarta kini diposisikan sebagai pusat pembelajaran sains yang mengedepankan pengalaman imersif dan interaktif. Fasilitas ini dilengkapi dengan teknologi visualisasi astronomi digital berbasis data ilmiah terkini, simulasi tata surya, dan AI Virtual Host, pemandu digital berbasis kecerdasan buatan yang menyampaikan informasi seputar astronomi dan sejarah Planetarium Jakarta secara interaktif.
Planetarium dan Observatorium Jakarta mulai dibangun pada tahun 1964 atas gagasan Presiden Soekarno yang ingin agar masyarakat Indonesia lebih mengenal benda-benda langit dan fenomena alam semesta. Pembangunan ini didukung oleh anggaran pemerintah dan bantuan pendanaan dari Gabungan Koperasi Batik Indonesia. Planetarium rampung pada tahun 1968 dan diresmikan pada 10 November 1968 oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, bersamaan dengan peresmian Pusat Kesenian Jakarta – Taman Ismail Marzuki. Pertunjukan Planetarium dibuka untuk umum pada 1 Maret 1969 dengan menggunakan proyektor Universal produksi Carl Zeiss dari Jerman, tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Planetarium Jakarta.
Planetarium Jakarta sempat vakum sejak tahun 2012 karena rencana pengembangan dan pembaruan fasilitas agar relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat. Sejak 2019, Planetarium Jakarta masuk dalam program renovasi dan revitalisasi kawasan Taman Ismail Marzuki. Melalui proses ini, Planetarium diarahkan untuk bertransformasi menjadi kawasan observatorium luar angkasa yang lebih modern. Seluruh fasilitas diperbarui, termasuk ruang teater, penerapan teknologi terkini, dan penggunaan kursi yang lebih nyaman. Dengan pembaruan ini, Planetarium Jakarta dan kawasan Taman Ismail Marzuki diharapkan kembali menjadi destinasi unggulan wisata edukatif dan hiburan bagi masyarakat Jakarta.





















