Gugatan Donald Trump terhadap JPMorgan Chase senilai $5 miliar menghidupkan kembali kekhawatiran tentang debanking, yaitu penolakan akses ke layanan keuangan. Gugatan ini menuduh bank menargetkannya karena alasan politik setelah serangan di US Capitol pada 6 Januari 2021.
JPMorgan Chase membantah menutup akun karena alasan politik atau agama, menyatakan bahwa mereka menutup akun karena risiko hukum atau regulasi. Namun, Trump telah lama menuduh bahwa debanking adalah upaya sistematis untuk menargetkan kaum konservatif.
Meskipun bukti untuk klaim ini terbatas, data menunjukkan bahwa kelompok yang paling sering menjadi sasaran debanking adalah Muslim dan Yahudi Amerika. Laporan dari Institute for Social Policy and Understanding (ISPU) menemukan bahwa 27% Muslim Amerika dan 14% Yahudi Amerika mengalami kesulitan dalam perbankan.
Praktik debanking melibatkan penggunaan “risiko reputasi” sebagai standar, yang memungkinkan bank untuk mempertimbangkan dampak sosial atau politik dari berbisnis dengan klien. Kritikus berpendapat bahwa praktik ini menjadikan bank sebagai penentu moral, yang dapat membekukan atau menutup akun berdasarkan pertimbangan non-keuangan.
Selain itu, industri seperti hiburan dewasa, ganja, dan mata uang kripto juga menghadapi masalah debanking. Banyak pekerja di industri ini telah kehilangan akses ke layanan perbankan karena sifat pekerjaan mereka. Meskipun undang-undang dan sentimen publik tentang penggunaan ganja telah berubah, bisnis yang terkait dengan ganja masih menghadapi tantangan perbankan karena hukum federal belum berubah.
Debanking telah menjadi masalah bipartisan di Amerika Serikat, dengan Trump dan Senator Elizabeth Warren sepakat bahwa bank harus mengubah cara mereka. Namun, ada kekhawatiran tentang bagaimana kebijakan tentang debanking akan ditegakkan dan apakah itu akan membantu semua komunitas, terutama yang tidak sejalan dengan nilai-nilai konservatif.























