Amerika Serikat (AS) mengizinkan penjualan kembali minyak Venezuela ke Kuba. Langkah ini diambil di tengah kekhawatiran negara-negara Karibia akan krisis kemanusiaan yang memburuk.
Departemen Keuangan AS menyatakan akan memberikan lisensi kepada perusahaan yang ingin menjual kembali minyak Venezuela untuk “penggunaan komersial dan kemanusiaan di Kuba”.
Kebijakan ini tidak berlaku untuk pihak yang terkait dengan militer, intelijen, atau lembaga pemerintah Kuba.
Venezuela adalah pemasok utama minyak mentah dan bahan bakar ke Kuba selama 25 tahun terakhir. Pasokan terhenti setelah AS mengambil kendali ekspor minyak Venezuela.
Meksiko, yang sempat menjadi pemasok alternatif, juga menghentikan pengiriman setelah AS mengancam tarif.
Blokade AS memperburuk krisis energi di Kuba, berdampak pada pembangkit listrik dan bahan bakar.
Perubahan kebijakan AS terjadi saat para pemimpin Karibia menyampaikan keprihatinan atas dampak blokade terhadap Kuba.
Perdana Menteri Jamaika, Andrew Holness, menegaskan solidaritas dengan Kuba. “Penderitaan kemanusiaan tidak menguntungkan siapa pun,” katanya.
Perdana Menteri Saint Kitts dan Nevis, Terrance Drew, memperingatkan bahwa destabilisasi Kuba akan berdampak pada seluruh kawasan.
Namun, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyalahkan kebijakan pemerintah Kuba atas krisis kemanusiaan tersebut.
Rubio memperingatkan bahwa sanksi akan diberlakukan kembali jika minyak tersebut sampai ke pemerintah atau militer Kuba.
Rubio juga menuding kesalahan pengelolaan ekonomi dan kurangnya sektor swasta yang dinamis sebagai penyebab situasi sulit di Kuba.
Tekanan AS terhadap Venezuela dan Kuba telah menyebabkan beberapa pengiriman bahan bakar tertunda sejak Desember, yang semakin memperparah krisis energi di pulau itu.





















