Presiden Prabowo Resmikan Lima Bendungan, Perkuat Ketahanan Air Nasional dan Dorong Swasembada Pangan
Jakarta, 10 Juli 2026 – Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk meresmikan lima bendungan strategis yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Pelepasan pesawat Kepresidenan Indonesia-1 dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada pukul 10.45 WIB menandai dimulainya rangkaian peristiwa penting ini. Kunjungan ini menjadi highlight program pembangunan infrastruktur air yang kini menjadi prioritas utama pemerintah.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa agenda Presiden ke NTB bukan sekadar serah terima fisik bangunan, melainkan juga simbol komitmen konkret pemerintah dalam memperkuat ketahanan air nasional. Ia mengatakan bahwa Presiden Prabowo akan meresmikan Bendungan Meninting di Kabupaten Lombok Barat. Pada kesempatan yang sama, juga diresmikan empat bendungan lain, yakni Bendungan Keureuto dan Bendungan Rukoh di Provinsi Aceh, Bendungan Jlantah di Provinsi Jawa Tengah, serta Bendungan Sidan di Provinsi Bali. “Peresmian kelima bendungan ini merupakan wujud komitmen pemerintah dalam memperkuat infrastruktur sumber daya air yang memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan, penyediaan air baku, pengendalian banjir, serta pengembangan energi bersih,” jelas Teddy Indra Wijaya.
Kelima bendungan tersebut diharapkan menjadi enigma baru bagi Bangsa. Bagi masyarakat sekitar, mereka akan merasakan manfaat langsung. Bendungan-bendungan ini diproyeksikan mengamankan pasokan air baku bagi jutaan penduduk sekaligus memperluas areal irigasi hingga sekitar 39 ribu hektare. Luas areal yang dapat dipagari air tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sektor pertanian secara signifikan. Apalagi, dengan tersedianya air yang cukup, petani dapat menanam tanaman pangan sepanjang tahun tanpa terhenti akibat musim kemarau. Pemerintah optimistis langkah ini akan mempercepat capaian swasembada pangan nasional.
Di sisi lain, keberadaan kelima bendungan juga memberikan manfaat ganda. Pertama, bendungan berfungsi sebagai pencegah banjir pada musim hujan, yang selama ini kerap menimbulkan kerugian materiil dan korban jiwa di sejumlah daerah. Kedua, cadangan air dari bendungan dapat dimanfaatkan untuk pembangkit energi bersih, seperti mikrohidro atau memenuhi kebutuhan air baku untuk proyek panas bumi dan energi terbarukan lainnya.
Dalam sambutannya meresmikan kelima bendungan, Presiden Prabowo menekankan bahwa pembangunan infrastruktur sumber daya air bukan hanya urusan teknik rekayasa, melainkan fondasi utama kedaulatan pangan dan kemandirian energi. “Keberadaan bendungan-bendungan ini diharapkan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan produktivitas pertanian, menjamin ketersediaan air, sekaligus memperkuat fondasi pembangunan yang berkelanjutan,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa kelima bendungan menjadi bukti kerja keras pemerintah untuk mewujudkan Indonesia yang lebih makmur dan mandiri. Manfaatnya tidak hanya tentang air, tetapi juga tentang penciptaan lapangan kerja selama fase konstruksi maupun operasional, peningkatan kesejahteraan petani, dan pengurangan ketergantungan pada impor bahan pangan.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya sendiri turut mendampingi Presiden dalam penerbangan menuju NTB. Kehadiran trio menteri tersebut menegaskan bahwa program pembangunan infrastruktur air ini menjadi prioritas lintas kementerian. Setiap kementerian turut andil menyusun pola pengelolaan dan pemanfaatan bendungan agar memberikan dampak maksimal bagi masyarakat.
Masyarakat NTB menyambut kunjungan Presiden dengan sukacita. Di sekitar lokasi Bendungan Meninting, warga memadati kawasan untuk menyaksikan sejarah. Bagi mereka yang selama ini kesulitan air bersih dan irigasi, bendungan ini membuka harapan baru. Sementara itu, pemerintah daerah Aceh, Jawa Tengah, dan Bali juga menyatakan dukungan penuh. Menurut Gubernur Aceh, Bendungan Keureuto dan Rukoh akan menjadi solusi atas masalah kelangkaan air yang sudah bertahun-tahun menghambat aktivitas ekonomi dan sosial. Di Jawa Tengah, Bendungan Jlantah diproyeksikan dapat menampung air untuk mengairi lahan pertanian seluas ratusan hektare. Sementara itu, masyarakat Bali yang kerap kesulitan air di musim kemarau berharap Bendungan Sidan dapat menjadi repositori cadangan air yang andal.
Dengan meresmikan kelima bendungan secara serentak, pemerintah juga ingin menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur tidak lagi berkonsentrasi hanya di Pulau Jawa. Kebijakan ini sejalan dengan visi pemerataan pembangunan, memastikan setiap wilayah di Indonesia merasakan manfaat langsung dari pertumbuhan nasional. Pemerintah berharap model pembangunan serupa dapat terus dilanjutkan di wilayah-wilayah lain, terutama di daerah timur yang masih membutuhkan sentuhan prioritas. Jangan sampai hanya Ibukota yang maju, segenap bangsa harus merasakan hasil pembangunan.
Mengenai aspek lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah menyetujui amdal kelima proyek bendungan. Kajian lingkungan hidup yang ketat dilakukan untuk memastikan bahwa proyek ini tidak menimbulkan dampak buruk terhadap ekosistem sekitar. Pemerintah juga berkomitmen untuk melaksanakan program penanaman pohon di sekitar kawasan bendungan sebagai upaya konservasi lahan dan air.
Keberhasilan kelima bendungan dalam jangka panjang tidak hanya bergantung pada kualitas konstruksi, tetapi juga pada pola pengelolaan yang baik di tingkat lokal. Pengamat khawatir bahwa tanpa pengawasan yang transparan dan partisipasi aktif masyarakat, pembangunan infrastruktur dapat menjadi bahan korupsi atau tidak memberikan manfaat Optimal. Ia menyarankan agar Dewan Pengawas Bendungan dibentuk langsung di tingkat desa, dengan melibatkan tokoh masyarakat dan perwakilan petani.
Presiden Prabowo pun menutup kunjungan dengan pesan kepada seluruh aparatur dan masyarakat untuk terus mendukung dan merawat infrastruktur yang telah dibangun bersama. Ia mengingatkan bahwa kejayaan bangsa tidak akan tercapai tanpa semangat persatuan dan kerja keras yang terus-menerus. Dengan lima bendungan yang kini beroperasi, Indonesia semakin siap menghadapi tantangan ketahanan pangan, air, dan energi di masa depan.



















