Irak menghadapi kebuntuan politik. Pemilu telah usai sejak November, namun pemerintah belum terbentuk.
Nouri al-Maliki, mantan perdana menteri, dipilih koalisi mayoritas parlemen. Ia dicalonkan untuk kembali menjabat.
Pencalonan al-Maliki memicu penolakan keras. Mantan Presiden AS, Donald Trump, secara terbuka menentang.
Penentangan Trump memperuncing polarisasi politik di Irak. Apa alasan di balik sikap keras AS?
Peran apa yang masih dimainkan AS di Irak saat ini? Berikut beberapa poin pentingnya:
* Al-Maliki dianggap sosok kontroversial.
* Ia dituduh korupsi dan sektarianisme.
* Kebijakannya memicu konflik internal.
AS khawatir kembalinya al-Maliki memperburuk stabilitas Irak. Hal ini dapat membuka celah bagi pengaruh Iran.
Beberapa analis menilai kekhawatiran AS beralasan. Namun, intervensi AS justru memperkeruh situasi politik.
Ahmed Rushdi, pengamat politik Irak, menyebut campur tangan AS kontraproduktif. Irak perlu menyelesaikan masalahnya sendiri.
Muhanad Seloom, akademisi, berpendapat serupa. Ia menekankan pentingnya dialog inklusif di antara semua pihak.
Kenneth Katzman dari The Soufan Center menyatakan bahwa AS tetap memiliki kepentingan di Irak. Stabilitas Irak penting bagi keamanan regional.
Situasi politik Irak masih sangat dinamis. Belum jelas bagaimana kebuntuan ini akan berakhir.
Peran AS dalam proses ini terus menjadi perdebatan. Dampaknya terhadap stabilitas Irak masih harus dilihat.





















