Gedung Putih mengumumkan pembentukan komite “teknokratik” yang bertugas mengawasi transisi kekuasaan di Jalur Gaza. Inisiatif ini merupakan bagian dari rencana Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri konflik Israel di wilayah Palestina tersebut.
Komite yang diberi nama National Committee for the Administration of Gaza (NCAG) ini akan berfungsi sebagai badan pelaksana di lapangan. Dr. Ali Sha’ath, mantan wakil menteri Palestina di Otoritas Palestina, ditunjuk sebagai pemimpin komite. Tugas utama NCAG adalah memulihkan layanan publik, membangun kembali institusi sipil, dan menstabilkan kehidupan di Gaza.
Untuk mengawasi operasional di lapangan, dibentuk Dewan Eksekutif yang beranggotakan tokoh-tokoh penting, termasuk Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan, utusan khusus Trump Steve Witkoff, menantu Trump Jared Kushner, mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair, serta pejabat senior dari Uni Emirat Arab, Qatar, dan Mesir. Dewan ini akan bertanggung jawab memastikan kelancaran pelaksanaan program-program yang telah direncanakan.
Sebagai otoritas tertinggi yang mengarahkan transisi kekuasaan di Gaza, Trump memimpin Dewan Perdamaian. Anggota dewan ini terdiri dari Menlu AS Marco Rubio, Steve Witkoff, Jared Kushner, Tony Blair, dan Presiden Kelompok Bank Dunia Ajay Banga. Dewan Perdamaian akan memberikan arahan strategis dan memastikan koordinasi yang efektif antara berbagai pihak yang terlibat.
Pengumuman pembentukan komite ini menyusul dimulainya fase kedua kesepakatan gencatan senjata di Gaza antara Israel dan kelompok perlawanan Palestina, Hamas. Fase ini berfokus pada demiliterisasi, pemerintahan teknokratis, dan rekonstruksi. Rencana tersebut mencakup penarikan penuh pasukan Israel, pelucutan senjata Hamas, pengerahan pasukan stabilisasi internasional, serta pembentukan pemerintahan sementara Palestina di Gaza. Inisiatif ini diharapkan dapat membawa stabilitas dan perdamaian jangka panjang bagi wilayah tersebut, serta meningkatkan kondisi kehidupan masyarakat Gaza yang telah lama menderita akibat konflik. Banyak pihak berharap langkah ini dapat menjadi solusi untuk menciptakan perdamaian abadi di wilayah tersebut, meskipun tantangan dan rintangan yang ada masih sangat besar. Situasi di Gaza juga menjadi perhatian dunia internasional, termasuk Indonesia, yang terus menyerukan perdamaian dan penyelesaian konflik secara adil dan berkelanjutan.




















