Mahkamah Agung AS membatasi wewenang Presiden Trump terkait tarif. Trump kemudian umumkan akan menaikkan tarif impor global jadi 15 persen.
Keputusan ini memicu beragam reaksi dari berbagai negara. Beberapa menyambut baik, sementara yang lain meninjau ulang perjanjian dagang.
Negara-negara kini mengevaluasi dampak tarif baru pada industri utama. Investasi dan negosiasi perdagangan juga jadi perhatian.
Korea Selatan akan meninjau kesepakatan dagang dengan AS. Mereka mempertimbangkan kepentingan nasional.
Ekspor Korsel menyumbang 85 persen dari PDB, AS adalah pasar terbesar kedua. Perubahan cepat bisa ganggu kesepakatan besar.
India sebelumnya kena tarif tinggi dari AS. Kini mereka sambut baik penurunan tarif jadi 18 persen.
Namun, India akan menunggu hasil final putusan Mahkamah Agung. Ini sebelum melanjutkan negosiasi lebih lanjut.
Tiongkok memberikan reaksi yang tenang. Mereka menilai perang dagang tidak menguntungkan siapapun.
Tarif terhadap Tiongkok diperkirakan turun dari 36 persen jadi 21 persen. Ini bisa sedikit melegakan ekonomi mereka.
Kanada menyambut baik keputusan Mahkamah Agung AS. Namun, mereka mengakui masih ada tantangan yang harus dihadapi.
Meksiko akan meninjau keputusan tersebut dengan cermat. Mereka ingin menilai sejauh mana dampaknya bagi Meksiko.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyoroti check and balances dalam demokrasi. Jerman juga berharap beban tarif berkurang.
Profesor Frank Bowman menilai putusan ini penting. Mahkamah Agung menantang serangan Trump pada supremasi hukum.





















