Pemerintah Afghanistan menyatakan keinginannya untuk menyelesaikan masalah dengan Pakistan melalui dialog damai. Hal ini disampaikan di tengah meningkatnya bentrokan perbatasan antara kedua negara.
Juru bicara pemerintah Afghanistan, Zabihullah Mujahid, menekankan pentingnya solusi damai dalam konferensi pers di Kandahar, Jumat (27/2).
Mujahid menyebutkan bahwa pesawat Pakistan masih terbang di atas wilayah Afghanistan, beberapa jam setelah serangan udara Islamabad ke beberapa kota.
Menurut Mujahid, 13 tentara Afghanistan tewas dan 22 lainnya luka-luka akibat bentrokan tersebut. Ia juga menambahkan bahwa Pakistan belum menunjukkan kesediaan untuk berdialog.
Mujahid mengklaim bahwa 55 tentara Pakistan tewas dan banyak lainnya terluka. Selain itu, 19 pos perbatasan Pakistan juga dikabarkan hancur.
“Kami memiliki 23 jenazah tentara Pakistan, selain beberapa yang ditangkap, yang jumlahnya akan kami umumkan nanti,” ujarnya.
Mujahid menolak tuduhan bahwa Taliban Pakistan menggunakan wilayah Afghanistan untuk menyerang Pakistan. Ia menegaskan komitmen Afghanistan untuk tidak membiarkan wilayahnya digunakan untuk menyerang negara lain.
“Perang internal Pakistan adalah urusan dalam negeri mereka dan bukan isu baru,” tegasnya.
“Kebijakan luar negeri kami didasarkan pada saling menghormati dan kami tidak ingin merugikan siapa pun,” tambahnya.
Bentrokan sengit antara Pakistan dan Afghanistan telah terjadi sejak Kamis (26/2) malam. Jumlah korban tewas di kedua sisi perbatasan terus meningkat.
Kabul mengumumkan serangan perbatasan terhadap Pakistan sebagai respons atas serangan udara Islamabad sebelumnya. Pakistan membalas dengan tembakan dan serangan udara baru.
Menteri Luar Negeri Afghanistan, Amir Khan Muttaqi, telah melakukan pembicaraan dengan diplomat Qatar dan Arab Saudi mengenai konflik tersebut. Pembicaraan menekankan pentingnya solusi diplomatik untuk meredakan ketegangan.
Dikutip dari Anadolu, kedua belah pihak diharapkan dapat segera menemukan jalan keluar damai untuk mengakhiri konflik.





















