Menteri Luar Negeri Oman, Sayyid Badr Al-Busaidi, mengumumkan terobosan signifikan dalam perundingan nuklir antara AS dan Iran.
Kesepakatan ini menyepakati kebijakan tanpa penimbunan uranium yang diperkaya.
Stok uranium akan dikurangi ke tingkat terendah dan diubah menjadi bahan bakar permanen.
Proses ini akan diawasi oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Al-Busaidi yakin kesepakatan damai dapat dicapai jika diplomasi diberi kesempatan.
Pencapaian terpenting adalah jaminan Iran tidak akan memiliki bahan nuklir untuk membuat bom.
Pemahaman ini dianggap baru dibandingkan kesepakatan nuklir sebelumnya.
Negosiasi menghasilkan kesepakatan tentang nol akumulasi, nol penimbunan, dan verifikasi penuh oleh IAEA.
Kesepakatan tentang pencampuran persediaan uranium ke tingkat terendah telah tercapai.
Uranium akan diubah menjadi bahan bakar yang tidak dapat diubah lagi.
Verifikasi penuh dan komprehensif oleh IAEA akan dilakukan jika kesepakatan tercapai.
Inspektur AS dapat memiliki akses jika kesepakatan dihormati dan berkelanjutan.
Komponen politik dapat disepakati dengan cepat, implementasi teknis akan diselesaikan dalam 90 hari.
Diplomasi adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah ini, tindakan militer hanya akan memperburuk keadaan.
AS memperkuat kehadiran militer di Teluk Persia, sementara Iran menuduh AS dan Israel mencari alasan untuk intervensi.
Dikutip dari Anadolu, Iran akan menanggapi setiap serangan militer dan menuntut pencabutan sanksi sebagai syarat pembatasan program nuklirnya.





















