Nilai tukar rupiah menguat pada penutupan perdagangan di Jakarta, Kamis. Rupiah naik 41 poin atau 0,24 persen menjadi Rp16.759 per dolar AS.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah berada di Rp16.800 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menjelaskan faktor penyebabnya. Minat investor terhadap obligasi pemerintah masih tinggi jadi pemicu utama.
“Minat pelaku pasar terhadap obligasi pemerintah masih tinggi. Ini karena imbal hasil yang kompetitif,” ujarnya.
Fiskal yang dikelola dengan baik juga jadi alasan penguatan rupiah.
Minat tinggi terlihat pada global bond euro pemerintah Indonesia. Permintaan mencapai 9,2 miliar euro, jauh melebihi yang ditawarkan 2,7 miliar euro.
“Over subscribe mencapai 3,4 kali,” tambahnya.
Menurut Rully, ini menandakan sumber pembiayaan pemerintah masih memadai. Biaya yang rendah juga jadi keuntungan.
Selain itu, pidato Presiden AS Donald Trump terkait tarif juga memengaruhi. AS menerapkan tarif global sementara sebesar 10 persen.
Gedung Putih berencana menaikkan tarif menjadi 15 persen. Ini menyusul keputusan Mahkamah Agung soal tarif resiprokal Trump.
Trump menyatakan hampir semua negara ingin mempertahankan kesepakatan tarif. Ini disampaikan di hadapan Kongres AS.
“Perang tarif diperkirakan mengurangi volume perdagangan dengan AS,” ungkap Rully.
Kebutuhan dolar untuk ekspor-impor dan cadangan devisa diperkirakan turun. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menguat ke Rp16.758 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.813 per dolar AS.




















