Iran berduka setelah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei wafat akibat serangan AS-Israel. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan di Teheran dan korban sipil.
Kabar kematian Khamenei sempat simpang siur. Pejabat Iran awalnya membantah, namun Presiden AS Donald Trump mengklaim sebaliknya.
Pemerintah Iran mengumumkan 40 hari berkabung dan libur kerja seminggu. Garda Revolusi Iran bersumpah membalas dendam. Ayatollah Makarem Shirazi menyerukan “perang suci”.
Wafatnya Khamenei menandai era baru. Ia menjabat selama 45 tahun, terlama di Timur Tengah. Khamenei menjadi Pemimpin Tertinggi sejak 1989, menggantikan Ruhollah Khomeini.
Kelahiran dan Pendidikan. Ali Khamenei lahir di Mashhad pada 19 April 1939. Ia belajar Islam di Qom, termasuk dari Ruhollah Khomeini.
Karier Politik. Setelah Revolusi Islam 1979, Khamenei naik daun karena dekat dengan Khomeini. Pada 1981, ia lolos dari percobaan pembunuhan.
Presiden Iran. Khamenei terpilih sebagai Presiden Iran pada November 1981. Ia memimpin Iran selama perang melawan Irak.
Pemimpin Tertinggi. Setelah Khomeini wafat pada 1989, Khamenei menjadi Pemimpin Tertinggi. Ia memperkuat kekuasaan di berbagai bidang.
Poros Perlawanan. Khamenei memelopori “Poros Perlawanan” melawan AS dan Israel, menggandeng Hizbullah dan Houthi.
Ekonomi Perlawanan. Untuk mengatasi sanksi, Khamenei mendorong “ekonomi perlawanan” dengan meningkatkan produksi dalam negeri.
Program Nuklir. Khamenei mendukung pengembangan nuklir sebagai simbol kekuatan nasional, tetapi menolak senjata nuklir.
Perjanjian Nuklir (JCPOA). Iran mencapai kesepakatan JCPOA pada 2015, namun AS menarik diri pada 2018. Iran mundur dari JCPOA pada 2025.
Transisi Kepemimpinan. Meski ada kekosongan kekuasaan, sistem politik Iran diyakini tetap stabil. Majelis Ahli akan memilih pengganti Khamenei.





















